Featured

Make Up for Personal Branding

Make up untukku juga berfungsi sebagai tools yang mendukung personal branding. Ketika bekerja aku cenderung hanya menggunakan make up di bagian tertentu pada wajah, bukan seluruhnya, sehingga tampak effortless, dan mempunyai ciri khas. Menurutku, kita nggak perlu coba semua yang lagi nge-trend, pakai aja yang memang diperlukan sesuai fitur wajah kita.

Alis

Alisku jarang-jarang dan pendek. Hanya ada segaris di atas mata saja, tidak ada arch. Malah rambut-rambut sisanya berkumpul di lokasi yang bukan seharusnya. Bentuk ini menyebabkan wajahku selalu memiliki tampilan sendu. Waktu SMA, aku sering diledeki, “Nur, jangan nangis dong” :’)
Pada lingkup pekerjaan tampilan sendu ini bisa jadi sesuatu yang merugikan. Ketika present ke client atau mesti meeting dengan kolega yang lain, kita bisa di judge lebih lemah, kurang diperhitungkan, atau anak bawang yang kurang percaya diri. Temen-temen sadar nggak, kadang-kadang kita pernah diremehkan sebetulnya karena ada ‘sinyal’ yang muncul kalau kita kurang percaya diri dan less-dominant. Kita harus selalu punya cara mencegah dan sikap mempertahankan diri. Hal ini ada hubungannya juga dengan alis, karena secara sekilas alis mampu mendeskripsikan karakter kita. Oleh karena itu, merapikan alis (tanpa mencukur) menjadi penting buatku. Apalagi alis memang bisa membingkai wajah kita. Aku tidak berusaha membentuk alisku jadi cuing sempurna bak alisnya mbak Raisa, karena memang arch-nya nggak ada. Untungnya trend alis lurus Korea lagi hits, jadi aku bisa sedikit mengadaptasi. Intinya aku hanya mengisi bagian yang kosong, dan memanjangkannya sedikit sampai ada di posisi normal.

Lipstik

Setelah aku pelajari, ternyata aku tergolong memiliki cool skin undertone. Warna lipstick coral cenderung membuat kulitku tampak lebih kuning, bukannya menjadikan tampilannya lebih cerah. Teman-teman bisa browsing apa saja pallete warna yang cocok sesuai skin undertone kita untuk bekal memilih lipstick yang cocok. Buatku, warna baby pink atau fuschia-lah yang paling cocok, karena bisa flattered my skin tone. Lagi-lagi kita ternyata nggak perlu ngumpulin semua shade lipstick, tapi beli aja yang sesuai.

Lipstik juga membuat tampilan kita lebih presentable. Wajah yang pucat, kucel, dan kusam. Dengan pemakaian warna lipstick yang tepat langsung memberikan efek ‘awake’ seketika.

Blush On

Mirip-mirip dengan lipstick, blush on juga memberikan efek ‘awake’ dalam sekejap. Bagiku yang jenis kulitnya kering, cream blush lebih cocok dipakai sehari-hari karena memberikan rona yang natural plus kelembapan dan efek glowing. Meminjam istilah Bobbi Brown tampilan blush on seharusnya tampak seperti rona pipi kita sehabis olah raga. Warna blush on juga sebaiknya dipilih sesuai dengan dengan skin undertone kita supaya tampak natural.

Eyelash Curler + Marcara

Duo ini harus sepaket. Karena sayang kalau pakai mascara tanpa dilentikkan dulu bulu matanya. Mascara membuat mata lebih terbuka dan wajah terkesan siap memulai hari. Menurutku, make up bisa memperbaiki mood. Mungkin karena ketika kita merasa lebih percaya diri dan senang dengan penampilan kita, kita lebih percaya diri, dan aura kita lebih positif.

Foundation

Foundation untukku pribadi itu sebagai tools untuk meratakan warna kulit asli kita. Misalnya seperti sekarang, tanpa diduga bangun tidur muka ada bintik kecil bekas gigital nyamuk, ngeselin banget, dan kalau pergi dalam kondisi kayak gitu, bakal lumayan bikin nggak pede. Dengan foundation yang tepat, kulit kita akan lebih terlihat cerah dan rata. Mungkin sebagian teman-teman sempet dandannya di jalan, bukan di rumah. Bisa kok kita pindahin foundation ke container kecil. Misalnya ke tempat bekas softlense. Jadi satu sisi foundation, satu sisi pelembab, lebih praktis. Mungkin ada juga teman-teman yang masih pakai bedak. Tapi menurutku efek natural agak sulit didapatkan hanya dari bedak aja, karena pasti kelihatan ada bekas bubuknya di wajah (ngerti kan maksudnya). Atau bisa juga pakai cushion. Nggak perlu yang asli Korea, sekarang ada yang jual chasingnya aja trus kita bikin DIY sendiri. Campuran dari foundation, pelembab, dan sunscreen (banyak tutorialnya di Youtube). Tapi aku sampai sekarang masih setia sama cashing bekas softlense plus spons aja.

Sebetulnya 4 elemen tadi sudah cukup membuat wajah kita presentable. Tapi kalau masih ingin ada yang di-enhance lagi juga boleh. Misalnya:

Eye Shadow + Hi Light

Jarak alis dan mataku itu sempit, padahal aku pengen juka punya efek mata yang sedikit lebih ‘dalam’, kesannya lebih professional dan bisa diandalkan, hehe.. Untuk mengatasi hal itu, menggunakan warna eye shadow matte coklat, untuk mereplikasi bayangan pada mata, seakan-akan matanya lebih dalam. Sapukan ke seluruh eyelid lalu di-blend, supaya efeknya natural.

Aku juga suka efek penggunaan hi-light karena wajahku akan tampak lebih berkilau dan sehat. Terutama ditaruh di ujung mata, di bagian tertinggi dari pipi, ujung hidung, dan cupid bow (ujung melengkung pada bibir yang mirip panahnya cupid). Untuk mengatasi keribetan bawa alat make up banyak. Aku berusaha pilih pallete eye shadow isi 3 yang sudah ada semua warna yang aku perlukan: coklat matte, pearl shimmer untuk hi light, dan pink shimmer. Yang pink kadang aku pakai di bawah mata tergantung mood.

Setelah make up kita bahas, bagi yang berjilbab, warna hijab juga berpengaruh. Lagi-lagi sesuai skin undertone-ku, warna electric blue ini akan mencerahkan kulit wajah. Saranku kalian bisa tonton Song Ji Hyo Beauty View karena di acara itu lumayan dijelaskan dengan detail tentang personal colour. Lalu tonton Justin Leconte, dia bahkan kasih suggestion apps yang bisa membantu kita menganalisa warna kulit kita, apa saja warna yang dominan serta presentasenya, canggih!

 

 

Advertisements

Sudah belajar banyak dari Youtube, kenapa sekarang nggak gantian?

 

Aku mulai semangat belajar dandan sendiri karena sering nggak puas sama hasil make up orang lain (itu lho, kan zaman SD sering diminta jadi yang ngipasin pengantin atau Pager Ayu, tapi dikasih bulu mata palsunya yang super-ultra badai, sampai helainya menyentuh bawah alis, hiks). Akan tetapi, mau bayar Make Up Artist (MUA) idola ku pun belum sanggup, hahaha.

Sebetulnya, memang sejak SD aku sudah sering eksperimen sok sok dandanin ulang cover majalah Kartini pakai spidol warna, ditebelin eye shadow sama lipstick-nya lah, dikasih blush on lalala… (semua pakai spidol warna btw, kebayang kan, wkwk). Abis itu aku mulai nekat nyampur Minyak Tawon sama bedak Caladine (ouch!), aku pikir itu bisa dipakai buat maskeran dan mempercantik kulit, pinter! :’D (jangan ditanya, pastinya kepanasan kulitnya, huft)

Aku pakai produk make up beneran itu zaman kuliah, itupun cuma mascara (Oriflame), loose powder (Ristra), sama pelembab bibir (tau Tender Care-nya Oriflame kan? Kayaknya hits pada zamannya yha). Waktu itu, udah berasa seneng banget sama hasil mascara, mata yang sayu nan sedih ini seketika nampak awake, hahahha

Mulai kerja dan punya uang sendiri, itulah saat perjalanan cari make up yang sesungguhnya dimulai. Dari BB Cream-nya Caring Colours by Martha Tilaar yang awal muncul dan varian termurah, juga coba tester pack CC Cream dari Clinique (yang aku pakai jadi primer sekarang, karena belum punya primer), sampai akhirnya butuh yang coverage bagus dan nggak gampang oksidasi/jadi abu-abu, aku beralih ke foundation. Semua dicoba mana yang paling cocok. Aku juga rajin baca artikel tentang skin undertone beda yah sama skin tone dari Youtube (Justine Leconte) dan channel Korea (Song Ji Hyo Beauty View) sampai aku tau mana yang paling cocok buat fitur wajahku.

Jadi teman-teman, ternyata belajar dasar pengenalan wajah sendiri itu penting banget! Kenali apa jenis kulitmu, apakah berminyak, kering, atau kombinasi. Skin undertone-mu, apakah warm, cool, atau neutral. Bentuk kelopak mata-mu, apakah hooded, monolid, atau almond, dan sebagainya. Itu semua supaya kita nggak salah pilih make up. Make up kan tujuannya enhance apa yang sudah kita punya. Menurutku nggak semua harus dipakai atau dibeli kalau kita nggak perlu. Lain cerita kalau profesimu Make up Artist atau uang nya turah-turah ya, monggo silahkan 😀

Oh iya, tentang tema video pertamaku “Make Up Untuk Kondangan di Siang Hari” terinspirasi dari keresahanku saat foundation sering banget cracking dan luntur di hidung walau lokasi kondangan di dalam gedung. Pokoknya kondangan belum beres tapi make up di mukaku udah menyerah kalah, huhu.. Foto juga nggak cucok hasilnya, malah nggak keliatan pakai me’ap. Aku mulai belajar baking technique make up saat venue pernikahan sahabatku, Feny, lokasinya di outdoor dan aku musti jadi salah satu bridesmaid-nya. Aku pikir, “wah asik nih outdoor cahaya mataharinya dapet, pasti cakep buat foto-foto, tapi gimana caranya make up supaya tetep staaay?!” Setelah nonton banyak video Youtube, aku dapat kesimpulan kalau baking technique itu musti pake translucent powder (bedak tabur yang nggak berwarna/putih), yang paling popular itu dari Laura Mercier. Tapi kok mahal ya bok harganya, ogut kan nggak baking-an tiap hari. Setelah googling nemu ingredients utama di translucent powder ini ternyata talc, dan bedak bayi Johnson juga mostly berbahan dasar talc. Berangkat dari kesotoy-an bin ke-nggak-mau-rugi-an ku ini, aku menggunakan bedak bayi sebagai pengganti translucent powder (waktu itu dodolnya kenapa nggak search video hacks teknik baking ya? Padahal ternyata banyak yg udah sharing bisa pakai bedak bayi, walau tetep ada pro and cons-nya ya).

And here I am, masih jauh dari kata sempurna lah ya pastinya buat make up. Tapi aku pikir, aku sudah buanyak banget belajar apa saja dari Youtube, kenapa nggak sekarang coba gantian? Pasti ada lah, setetes dua tetes manfaat yang bisa disampaikan. Apalagi nanti (insyaAllah) punya banyak teman dan bisa sharing juga di kolom komentar. Jadi content creator blm pasti kita tau segalanya loh, jadi dikasih masukkan dan kritik itu seneng banget, apalagi ada diskusi ngobrol. Artinya karya kita diperhatiin, hehe…

Aku nggak sabar sih dapet feedback dari temen-temen. Oh ya, bisa aja content ku nggak berupa make up thok, tapi bisa juga tentang masakan, tips dan trik ala keluarga muda, atau tentang proses perjalanan pengenalan diri, aishhh…

So, my darling friends, please welcome my very first video, enjoy!